JAKARTA altinanews.com,- Innalillahi Wainnilahi Rojiun. Berita duka datang sebelum Subuh. Sabtu dini hari, 18 April 2026, dunia pers Indonesia kehilangan seorang jurnalis terbaik. Zulmansyah Sekedang, Putra Riau yang akrab kami panggil Bang Zum, berpulang akibat serangan jantung. Usianya belum genap 54 tahun. Jejak yang ditinggalkan, jauh melampaui bilangan usia.
Kematian teramatlah mengguncang. Lebih dari itu, kematian adalah cara paling panjang bagi kita mengenang seseorang.
Saya pertama kali mengenal Bang Zum pada 1997 atau 1998. Ia wartawan Riau Pos dengan kode berita: zum, ditulis huruf kecil. Dari kode kecil itu lahir nama besar. Ia role model wartawan masa itu, gagah, good looking, parlente, jejaring luas, dan, yang paling penting, bisa menulis dengan cepat dan bagus.
Bang Zum wartawan lapangan yang utuh. Menulis kriminal, tajam. Menulis ekonomi, rapi dan dalam. Menulis panjang, tetap bernyawa. Dalam lomba karya tulis Raja Ali Kelana yang digelar PWI Riau pertengahan 2000-an, ia meraih juara pertama. Saya di posisi kedua. Bahkan dalam kompetisi, ia tetap menjadi panutan.
Wartawan tidak bisa kaya. Wartawan itu hidupnya pas-pasan. Ini ‘proklamasi’ abadi profesi jurnalis. Tapi Bang Zum menolak tunduk pada keterbatasan. Kepiawaiannya menulis berjalan seiring dengan naluri berniaganya yang tangguh.
Ia merintis Zoom Futsal, yang tumbuh cepat dan dikenal luas, punya banyak cabang di Pekanbaru. “Zoom”, jika dibaca, seperti kode beritanya: zum. Tapi bagi kami, zoom adalah cara melihatnya lebih dekat, lebih nge-zoom, lebih dekat untuk belajar, lebih dekat untuk meneladani.
Pada organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), namanya menjelma menjadi magnet. Saat memimpin PWI Riau selama dua periode, ia menghidupkan organisasi dengan segudang kegiatan, energi, dan keberanian mengambil keputusan.
Salah satu langkah terbesarnya adalah maju dalam kontestasi Ketua Umum PWI Pusat, menjadi wartawan Riau pertama yang membacakan visi-misi di forum kongres nasional, sekaligus yang pertama masuk dalam tiga besar calon ketua umum.
Ia memang tidak menang saat itu. Ia kalah dengan kepala tegak, dan lebih penting lagi, dengan martabat yang utuh. Dalam dinamika organisasi berikutnya, Bang Zum dipercaya menjadi Ketua Umum PWI Pusat versi Kongres Luar Biasa. Sebuah fase yang tidak mudah, ketika organisasi menghadapi dualisme.
Di titik yang paling menentukan, ia menunjukkan kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya. Dalam Kongres Persatuan di Cikarang, ia memilih mundur demi persatuan. Sebuah keputusan yang tidak semua orang mampu ambil.
Cara terbaik menemukan diri adalah dengan mengabdikan diri kepada orang lain. Bang Zum, dengan caranya sendiri, telah menjalani makna itu. Dalam kepengurusan PWI Pusat kini, ia dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal PWI Pusat. Sebuah posisi strategis yang dijalani penuh dedikasi, pengabdian total.
“Bantu aku Mon,” katanya, mengajak saya bergabung di PWI Pusat sebagai ketua departemen budaya.
Bang Zum benar-benar mencintai PWI. Kadang bahkan melebihi dirinya sendiri. Senin sampai Kamis, ia berada di Jakarta. Di ruangannya di lantai 4 Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, ruangan yang nyaris tak pernah sepi dari tamu. Diskusi, koordinasi, curahan hati, semua mengalir ke sana. Lalu Jumat hingga Minggu, ia kembali ke Pekanbaru. Rutinitas itu ia jalani terus-menerus, tanpa keluh. “Dengan kantong sendiri,” ujarnya tergelak.
Bang Zum juga seorang imam yang baik. Bacaan shalatnya indah, tartil, menenangkan. Oleh warga di lingkungan perumahannya di Perum Sakinah Permai II blok B no 7, Jl Purwodadi, Panam, Pekanbaru, Bang Zum didaulat sebagai ketua pengurus masjid.
Dalam perjalanan ke berbagai daerah, misalnya, ketika kami singgah di masjid atau mushala, saya sering “menjebaknya” menjadi imam, dengan buru-buru melantunkan iqamah sebelum ia sempat menolak. Ia pun maju, dengan tenang, khusyuk memimpin sembayang.
Baru kemarin siang, Jum’at (17/4), Bang Zum mengabarkan buku kumpulan tulisan teman-teman peserta Kemah Budaya Baduy sudah siap cetak. Ah, Abang begitu perhatian pada kami yang muda-muda. Kami sangat kehilangan, Bang. Kehilangan figur panutan. Lapang terang di sana, Abang kami elok budi.
Allahummaghfirlahuu warhamhuu wa’afihii wa’fuanhuu.
Bagai pepatah “terkena pada ikan bersorak, terkena pada batang masam” — saya merasa beruntung dan berbahagia dipertemukan dengan sosok yang tepat, yang telah memberi begitu banyak pengalaman berharga. Saya bersaksi Abang orang yang amat baik.
Innalillahi Wainnailaihi roji’un.
Selamat jalan, Bang. Kami antre di belakang.
Penulis : Ramon Damora


















